Gerhana di Ujung Senja

Diposting pada 129 views

Aku menikah seorang pemuda pengangguran, sering pula disebut kerja serabutan. Aku tamatan SMK, kerjakupun serabutan. Sebenarnya aku menikah hanya karena kecewa dengan keadaan keluargaku yang tidak mempedulikan. Kedua orang tuaku hanya sayang kepada kakakku saja. Menikah adalah satu-satunya jalan yang harus kutempuh saat ini. Dan sinilah kisahnya bermula.

Pada hari yang telah disepakati akupun menikah dengan seorang pemuda yang selama ini dekat denganku. Dua tahun pertama akupun hamil dan sekarang sudah memiliki 4 anak, 1 laki-laki, 3 perempuan. Orang-orang menyebutku dengan nama Yanti. Berat badan tidak lebih dari 47 kg dengan tinggi 155 cm, kulit sawo matang. Muka pas-pasan, kayak wanita umumnya. Rambut ikal mayang. Namun, karena kecelakaan yang menimpahku sebulan setelah menikah gigiku jadi ompong dan ada bekas jahitan di pelipis kananku. Aku dikenal dengan Yanti ompong.

Kurajut masa demi masa, kulewati berbagai cerita suka maupun duka selama 10 tahun menikah. Aku tinggal di rumah yang sangat sederhana. Berdinding papan kayu gadis, berukuran 6 x 4 meter, memiliki satu kamar tidur. Tempat tidur usang pemberian tetangga yang pindah minggu lalu masih menghiasi kamar tidur kami. Lemari baju yang dibeli 5 tahun lalu masih setia menemani kami di sini, begitu juga tungku yang ada di dapur. Satu pojok rumah ini kami jadikan dapur sementara, karena suamiku belum mampu menambah ruangan khusus untuk dapur. Sehingga, asap dapurpun sering menelusuri setiap lorong rumahku. Inilah surgaku saat ini.

Suatu ketika karena krisis melanda negeri ini, aku dan mertuaku tinggal serumah. Aku diajak suamiku tinggal bersama orang tuanya, alasannya biar ada yang mengurus rumahnya. Rumahnya lumayan besar, tidak sempit seperti punya kami. Penghuninya memang sedikit, karena suamiku hanya memiliki 3 saudara, semuanya sudah menikah. Kami yang hanya tinggal satu desa dengan mertua.

Hari senin sampai ke senin lagi, semua tindak tandukku tidak disukai mertua. Harapan yang ada dalam pikirannya tidak sesuai kenyataan. Aku babu di rumah ini, tapi tak dianggap menantu. Semua pekerjaan rumah berhasil kuselesaikan, kecuali hanya tinggal menyuci baju mertua yang belum kuhandle. Mungkin suatu saat juga kan kukerjakan.

Ia, aku sangat sibuk karena masih mengurus anak-anakku yang masih kecil. Ditambah semua urusan rumah tangga ada di pundakku, sejak bangun tidur hingga menjelang tengah hari aku masih saja di dapur dan di sumur.

“Uuughhh, kapanlah aku bisa seperti Lara. Ada pembantu di rumahnya. Anaknya yang urusi mertua. Beruntung sekali nasibmu, Ra….” Aku membatin dalam lamunanku sambil menjemur pakaian yang tidak sengaja memergoki tetangga depan rumah tampak bahagia.

Aku merasa beban hidup semakin menghimpit. Seperti hujan deras yang turun tanpa henti, sehingga tidak bisa berbuat banyak hal kecuali hanya termangu. Hujan membawa berkah kata guruku waktu SMK. Jangan lupa berdoa karena maqbul.

“Ya Allah, aku tidak berdaya tanpa bantuan-Mu, tanpa pertolongan-Mu, tanpa rezeki-Mu. Aku tahu hidup ini harus dijalani, aku tahu hidup ini harus disyukuri. Ajarkan kami cara bersyukur, ajarkan kami cara menikmati ajaran Rasul, agama yang mulia yang menjadi rahmat bagi semua. Jauhkanlah kami dari kesusahan, tambahkan rezeki kepada kami, mampukan kami hidup layak di dunia maupun di akhirat. Aku ingin dimampukan melewati hari-hari sulit. Aku ingin kaya harta maupun kaya hati. Aku ingin keturunanku mengikuti generasi pencinta Al-Qur’an. Aku ingin hidup bahagia dunia maupun akhirat….Aamiin…aamiin…aamiin.”

Seketika kenangan nasihat guru favoritku kala itu kembali terngiang-ngiang di telinga. Setiap masuk kelas dan hari turun hujan pasti beliau mengajak kami berdoa.

“Hei, Yanti apa yang kamu lakukan? Ngelamun saja kamu ini, sini! Ambilkan saya bubur kacang hijau yang tadi saya minta buatkan, cepat! ” Ibu mertuaku mulai kumat lagi. Inilah lagunya, selalu kunikmati setiap hari. Nada selalu sinis, aku memang diperlakukan bak pembantu di rumah ini. Hinaan yang aku terima sudah menjadi dzikir rutinitas setiap hari.

”Ini Bu..” Aku hanya sepatah atau dua patah kata mampu bicara di hadapannya. Beliau sangat kuhormati dan kusayangi sepenuh jiwa. Suamiku memuji kalau urusan melayani mertua. Semua tetangga juga mengakui kalau aku jawara melayani mertuaku. Semua juga tahu aku mendapat perlakuan yang kasar dari mertua. Meski begitu, tetaplah aku yang merasakan.

Mereka semua hanya melihat dan menilai. Sementara aku, akulah si penderita itu. Hingga suatu ketika aku sedang tidak enak badan karena datang bulan. Emosiku tidak terkontrol. Emosiku memuncak, liar dan ganas. Akibatnya mertua memaki dan mengusirku. Saat itu, aku sangat kesal karena suami pergi tanpa memberi khabar dan membawa serta handpone yang menjadi andalanku untuk membantu kelancaran tugas-tugas sekolah anak pertama dan kedua di tingkat SD.

Kekesaalan itulah yang membuat aku tidak siap menerima makian mertuaku.

“Aku tidak akan diam lagi, sekarang mau Ibu apa?” Aku menantang mertuaku yang sedari tadi ngomel hanya karena belum sempat aku siapkan makanan kesukaannya.

“Hei menantu tak tahu diuntung, pergilah kau dari sini. Anakku sudah kusuruh pergi mencari calon menantu yang lebih hebat dari kamu. Aku muak melihat kamu! Kerja malas-malasan, mana jelek lagi, tak ada yang bisa kubanggakan dari kamu..aku malu punya menantu macam ni. Jadi kalau tak suka pergi kau dari sini, tinggalkan saja cucuku..menantu bisa cari yang baru..”

Mendengar jawabanku, mertuaku tambah kilaf, kata-kata yang keluar dari mulutnya lebih menyakitkan dari biasanya. Aku menahan diri untuk tidak cekcok dengan mertua. Amunisi yang kusiapkan tak mampu kubendung lagi, memang jatahnya harus keluar.

“Aku belum akan pergi jika bukan suamiku yang mengusir. Dulu aku dipinang baik-baik, maka jika aku sudah tidak dikehendaki lagi di sini, tolong kembalikan baik-baik pula….aku akan menunggu kepulangan Kang Rahmat.” Jawabku, entah darimana kekuataan datang dan memampukan aku bicara di depan mertuaku.

Sejak hari itu, hubunganku dengan mertua semakin kacau. Aku tidak ditegur, aku tidak dianggap ada. Semua gerak-gerikku menjadi tidak ada yang benar. Di sini salah, di sana salah. Rumah ini bagai neraka bagiku sekarang ini. Aku semakin tak bisa mengendalikan diriku. Kendaliku bagaikan layangan putus talinya. Suami tak dapat dihubungi, menjadikanku semakin sedih. Air mataku tak bisa dibendung, setiap saat rasanya mengalir deras bagai musim hujan.

“Bertahanlah, Ti. Ini ujian saat sepuluh tahun pertama pernikahanmu. Coba cari jalan keluar dari masalah ini. Jangan mudah terpancing emosi. Turunkan level amarahmu,” nasihat sahabat saat aku mencurahkan isi hatiku kepadanya yang tidak sengaja bertemu di jalan menuju pasar.

“Tapi, Ra. Aku sudah tidak tahan lagi….aku dicueki, dihina, dan semua yang kukerjakan tidak ada yang diterima…aku bagai bangkai hidup, Ra! Penghinaan demi penghinaan aku dapatkan hampir setiap hari.” Semakin kutahan air mata semakin cepat keluar.

“Ya Allah, sebegitunya Ti. Bukankah Allah melarang hal itu. Mertuamu mungkin tidak paham ilmunya. Ni ya Ti, ada di surat Al-Hujurat ayat 11:
“Wahai orang – orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olok) lebih dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah mencela dirimu sendiri dan jangan kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

“Aku sudah tidak tahan lagi, Ra. Aku minta dikembalikan saja baik-baik sama orang tuaku jika memang sudah tidak dianggap lagi di keluarga suamiku. Aku ingin sekali kembali ke rumah Ibuku.”

“Tunggu suamimu pulang, Ti. Bicarakan baik-baik. Jangan emosi, saya yakin ini hanya kerjaan setan ingin menghancurkan keluargamu. Fokuslah apa yang akan kau gapai. Jangan lupa dekati Allah. Tidak enak di rumah, kamu cari kesibukkan di luar. Kamu bisa bantu tetanggaku menggosok, mengepel, atau beres-beres. Sibukkan dirimu dengan hal-hal positif. Jangan banyak di rumah dulu Ti. Setelah memasak di rumah, kamu tinggalkan rumah. Pulang sore, masak lagi. Supaya hari-hari berat ini dapat dilewati dan sukses kau raih. Kalau mau, nanti aku ajak kamu ke sana.”

Aku menerima saran dari Rara. Oke, Yanti harus bangkit, Yanti harus mampu melewati masa kritis ini. Yanti harus kuat. Aku tidak mau kalah. Aku harus menang. Persoalan mertuaku tidak senang, akan aku abaikan saja. Aku melewati hari-hariku dengan kesibukkan baru. Setiap hari aku mencari tempat yang bisa kubantu. Pulang sore hari sambil membawa upah seadanya. Cukuplah untuk jajan anak dan keperluanku sehari-hari.

Allahu Akbar, suamiku pulang. Rasa amarah sudah di ubun-ubun. Kutumpahkan semuanya saat itu. Beruntungnya mertua sedang tidak di rumah. Beliau sedang menginap di tempat saudaranya. Bak gunung merapi yang siap memuntahkan laharnya ke muka bumi. Suamiku hanya terdiam, mendengarkan semua yang kumuntahkan. Aku berada dalam pelukkannya.

“Ingin rasanya dihargai, selalu mengkiritik. Aku butuh kasih sayang. Aku salah ya diajari, masakanku nggak enak harusnya diajari, caraku bekerja salah semua. Semua harus sesuai keinginan Mama. Aku memang berbeda dengan anaknya. Saran yang diberikan sudah kulakukan, tapi aku tidak bisa sempurna melakukannya. Apalagi dengan anak-anak, sepertinya aku saja yang salah. Aku tidak bisa disalahakn terus. Memang aku bukan menantu yang sempurna. Tapi aku sudah berusaha sbaik mungkin selama ini. Aku minta dipulangkan baik-baik Kang, jika memang tidak dibutuhkan lagi.” Sesak dadaku sedikit demi sedikit mulai berkurang.

Keesokkan harinya aku merasa lebih lega. Himpitan hati yang kurasakan semakin berkurang. Suamiku berhasil menenangkanku, dengan menjamin bahwa hanya aku yang akan menjadi teman hidupnya hingga akhir masa. Kami akan mencoba membangun rumah tangga yang bahagia.

Hari terlihat cerah, secerah harapanku. Pagi ini aku menyapu dan membersihkan lingkungan rumah sambil mendengarkan ceramah agama yang disiarkan temanku di laman facebooknya.

“….Ulah menyakiti orang lain berakibat fatal bagi yang melakukannya. Hal ini akan merusak amal saleh dan ketaatannya kepada Allah SWT. Sepertinya, Allah akan membalasnya dengan memberikan fasilitas neraka tempatnya kembali. Hadist ini disampaikan oleh Abu Hurairah Ra. Seperti kata ustadz Ahmad di Masjid Al-Fikri saat mengisi pengajian rutin ibu-ibu se-Kabupaten Seluma minggu lalu.” Isi komentar salah seorang teman yang sedang menonton.

BIODATA
MILMA YASMI, lahir di Padang Guci tepatnya Desa Padang Leban Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu, 08 Februari 1978, merupakan putri kelima dari sebelas bersaudara. Terima kasih Almarhumah Ibu Siti Usnah dan Almarhum Bapak Kadman Aming telah melahirkanku, semoga Allah menyayangi kedua orang tuaku, aamiin.

Mengikuti Kelas Menulis Tinta #4, telah mengukir jejak menulisku. Menjadi penulis hebat merupakan impian sejak kecil, termasuk sukses bersama sahabat penulis senusantara. Penulis mencoba belajar menulis cerpen mengikuti tantangan Mr. Goes pada bulan Juni tahun 2021. Terima kasih tim dari KMT #04, meskipun gratis kelas ini sangtalah keren dan bermanfaat. Ikut bergabung di komunitas guru yang rela berbagi dan mengabdi untuk negeri merupakan kebanggaan tersendiri bagiku. Semoga Allah swt memberikan kemudahan dalam mencapai impianku, dan membalas kebaikan pada guru-guru menulisku, aamiin.

Admin
Author: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *