Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku

Diposting pada 56 views

Kembali lagi pada Kelas Belajar Menulis Pertemuan ke-15 Gelombang 18 Jumat 7 Mei 2021. Kali ini yang menjadi narasumber adalah Bapak Susanto S. Pd yang akan membawakan materi Proofreading Sebelum Menerbitkan Buku.

Pak Susanto, S.Pd yang akrab disapa dengan Pak De ini merupakan alumni Belajar Menulis Gelombang 15 dan guru di SDN Mardiharjo di Kab. Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan.

Pengertian Proofreading

Proofreading adalah aktivitas memeriksa kesalahan dalam teks dengan cermat sebelum dipublikasikan atau dibagikan. Karena proses inilah sejatinya akhir dari proses dalam menulis sebelum tulisan tersebut d publikasikan baik dalam bentuk buku atau untuk konten blog dan sebagainya. Hal itu sesuai dengan nasihat para pakar menulis yakni, tulis saja jangan perdulikan teknis. Salah tidak mengapa selagi ide masih mengalir. Jika sudah selesai, barulah kita lakukan editing.

Tidak sedkit dari kita yang masih mengabaikan akan kualitas tulisan kita tanpa memperdulikan ediitng akhir sebelum ki publikasikan. Oleh karena itu, proofreading sangat penting. Daripada kita “menyewa” proofreader, lebih baik kita lakukan sendiri.

Pengertian Mengedit

Mengedit dan mengoreksi adalah langkah berbeda dalam proses merevisi teks. Pengeditan dapat melibatkan perubahan besar pada konten, struktur, dan bahasa, tetapi proofreading hanya berfokus pada kesalahan kecil dan inkonsistensi.

Menurut “penerbitdeepublish” ada beberap langkah dalam melakukan pengeditan dan proofreading.

1. Pengeditan Konten

Merevisi draf awal teks, seringkali membuat perubahan signifikan pada konten dan memindahkan, menambahkan atau menghapus seluruh bagian adalah langkah pertama.

2. Pengeditan Baris

Merevisi penggunaan bahasa untuk mengomunikasikan cerita, ide, atau argumen seefektif mungkin. Ini mungkin melibatkan perubahan kata, frasa dan kalimat serta penyusunan ulang paragraf untuk meningkatkan aliran teks. Adalah langkah kedua.

3. Menyalin Pengeditan

Memoles kalimat individual untuk memastikan tata bahasa yang benar, sintaks yang jelas, dan konsistensi gaya. Salinan dari editor tidak mengubah konten teks, tetapi jika kalimat atau paragraf ambigu atau canggung, mereka dapat bekerja dengan penulis untuk memperbaikinya.. Ini adalah langkah ketiga

4. Proofreading

  1. Cek ejaan. Ejaan ini merujuk ke KBBI, tetapi ada beberapa kata yang mencerminkan gaya penerbit
  2. Pemenggalan kata-kata yang merujuk ke KBBI
  3. Konsistensi nama dan ketentuan
  4. Perhatikan judul bab dan penomorannya

Melakukan proofreading sesungguhnya kita akan bertindak sebagai seorang “pembaca” dan menilai apakah sebuah karya tulis sudah bisa
dimengerti atau justru berbelit-belit. Harapannya, setelah melewati tahapan proofreading, karya tulis bisa lebih mudah dipahami pembaca.

Memperlakukan tulisan sebelum diterbitkan (dipublikasikan) di blog

Kesalahan kecil yang tidak perlu misalnya typo atau kesalahan penulisan kata dan penyingkatan kata. Meskipun blog itu milik pribadi dan bebas, pembaca juga harus diperhatikan. Tidak ada kesalahan penulisan (typo) akan membuat pembaca nyaman.

Kesalahan kecil lainnya misalnya, memberi spasi (jarak) kata dan tanda koma, tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya. Tanda-tanda baca tersebut tidak boleh diketik terpisah dari kata yang mengikutinya. Cara mudah untuk memeriksanya (yang saya lakukan) adalah menekan tombol CTRL bersamaan dengan tombol huruf F (CTRL+F). Lalu, ketikkan tanda koma. Maka akan muncul highlight teks dengan warna kuning.

Setelah itu kita periksa apakah ada kesalahan atau ada spasi antara kata dengan tanda koma. Hal yang sama lakukan pada tanda baca lainnya. Jika hal ini kita lakukan maka pos blog menjadi bersih dari kesalahan pengetikan.

Kesalahan kecil lainnya yang biasa dilakukan adalah penulisan di- sebagai awalan dan di sebagai kata depan. Saya pribadi selalu “terganggu” jika kesalahan kecil ini ada dalam tulisan. Oleh karena itu perlu sedikit keterampilan untuk membedakan keduanya.

Jika kata yang mengikuti di adalah verba atau kata kerja maka ditulis serangkai dan kata itu ada bentuk aktifnya yaitu jika diberi imbuhan me-.

Aturan ejaan lainnya yang ada dalam PUEBI wajib kita pahami. Meskipun blog tidak mensyaratkan bahasa yang baku (kan suka-suka penulisnya) tetapi minimal wajib tahu dan menerapkan aturan-aturan yang dicontohkan.

Contoh kasus seperti pada teks diatas.

Kalimat: Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru didalam ruang guru pada masing masing meja guru tersebut.

Kalimat tersebut di atas terdiri dari 34 kata. Jumlah atau kata maksimal yang disarankan (misalnya oleh YOAS SEO) adalah 20 kata. Maka kalimat tersbut perlu diedit kembali.

Pada saat jam istirahat mengajar ada beberapa guru bercengkerama. Mereka bercengkerama sambil minum teh yang disiapkan oleh petugas kantin yang biasa setiap hari menyajikan minuman bagi guru di dalam ruang guru.

Kalimat kedua sebenanrnya juga masih bisa diperpendek dengan membuang frasa di dalam ruang guru. Sedangkan alat untuk melakukan proofreading bisa dari:
1. puebi daring;
2. kbbi daring

Itulah materi yang disampaikan Bapak Susanto sebagai pemateri pada Belajar Menulis Gelombang 18 pada Hari Jumat tanggal 07 Mei 2021

Bagus Sugiarto
Author: Bagus Sugiarto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *